Showing posts with label A Book By Rodin Syamsudin. Show all posts
Showing posts with label A Book By Rodin Syamsudin. Show all posts

04 July 2019

7 RAHASIA KUN  - BAB 1 KUN  (Bagian 8)

7 RAHASIA KUN - BAB 1 KUN (Bagian 8)

7. Tujuh syarat sujud kepada Allah swt.

Dalam Al-Qur’an Nul’adzim, kurang lebih ada 49 ayat yang menerangkan masalah sujud diantaranya :
        QS. Al-Baqarah : 34, 58, dan 125
        QS. Ali-‘Imran    : 43 dan 113
        QS. An-Nisa        : 102 dan 154
    QS. Al-A’raf          : 11 - 12 , 120, dan 206
        QS. At-Taubah    : 112
        QS. Yusuf            : 4 dan 100
        QS. Ar-Ra’du      : 15
        QS. Al-Hijr          : 29, 30 – 33, dan 98
        QS. An-Nahl        : 48 – 49
        QS. Al-Isra’         : 61 dan 107
        QS. Al-Kahfi        : 50
        QS. Maryam       : 58
        QS. Toha             : 70 dan 116
        QS. Al-Hajj          : 18, 26, 77
        QS.  Al-Furqan    : 60 dan 64
        QS. Asy-Syu’ara : 46 dan 219
        QS. As-Sajdah     : 15
        QS. Shod             : 24, 72, 73, 75
        QS. Az-Zumar     : 9
        QS. Al-Fath         : 29
        QS. An-Najmu    : 62
        QS. Al-Qalam     : 42 – 43
        QS. Al-Insan        : 26
        QS. Al-Insyiqoq   : 21
        QS. Al-‘Alaq        : 19

Sujudnya makhluk kepada makhluk sangatlah berbeda dengan sujudnya makhluk kepada penciptanya, yaitu Allah swt.. Sujud makhluk kepada makhluk adalah sebagai bentuk penghormatan seperti sujudnya para Malaikat kepada Nabi Adam as. atas perintah Allah swt..
Firman Allah swt. :
“Kami katakan kepada Para Malaikat, ‘Bersujudlah kamu kepada Adam’, Maka merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud.” 
(QS. Al-A’raf : 11)
Atau sujudnya sebelas bintang, matahari, dan bulan kepada Nabi Yusuf as..
“(ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.’" (QS. Yusuf : 4)
Ataupun seperti sujudnya Nabi Yakub as. dan istrinya kepada putranya, Nabi Yusuf as..
“Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) tunduk bersujud kepada Yusuf. Dan berkata Yusuf, ‘Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. (QS. Yusuf : 100)
Sujud penghormatan tergantung bagaimana adat istiadat di suatu daerah atau Negara. Contohnya penghormatan di Negara Jepang dengan cara membungkukkan badan, sedangkan di Negara Indonesia dengan cara mengangkat tangan yang disejajarkan dengan kepala sebagai penghormatan kepada atasan atau yang dimuliakan, atau kepada lambang-lambang Negara.
Sedangkan sujud kepada Allah swt. sangtlah sakral dan di khususkan karena ada syarat dan tata caranya, waktunyapun ditentukan terutama sujud (Shalat ) yang lima waktu  yang diatur dalam Al-Qur’an dan Hadist.
Firman Allah swt: 
Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa : 103)
Dalam kitab Fiqih (Safinatun-naja,) dijelaskan waktu-waktu yang wajib untuk Shalat (bersujud) kepada Allah swt. diantaranya :
1.    Waktu Dzuhur : wajib dilaksanakan ketika tergelincir matahari hingga jadinya   bayangan suatu  perkara, sama dengan  perkara tersebut, kecuali bayangan Istiwa.
2.    Awal waktu Ashar : ketika jadinya bayangan  setiap perkara, sama dengan perkara  tersebut  atau lebih sedikit. Dan akhir waktu shalat ashar yaitu terbenamnya matahari.
3.    Awal waktu shalat Magrib : setelah terbenamnya matahari, sedangkan Akhir waktu shalat Magrib setelah terbenamnya mega merah.
4.    Awal waktu Isya’ : yaitu terbenamnya mega merah, dan akhir waktu shalat Isya’, terbitnya fajar sidiq (fajar benar).
5.    Awal waktu shalat Subuh : yaitu terbitnya fajar Sidiq (fajar benar). Sedangkan Akhir waktu shalat Subuh terbitnya matahari.
Mega terbagi tiga diantaranya :
1.    Mega merah
2.    Mega kuning
3.    Mega putih
Adapun mega merah, tibanya waktu shalat magrib, sedangkan mega kuning dan mega putih tibanya waktu shalat Isya                                                                                                  Dan di Sunnahkan mengakhirkan shalat Isya’ hingga  terbenamnya mega kuning dan mega putih.
Kemudian dijelaskan bahwa syarat-syarat sujud ada tujuh, diantaranya :
1.        Diharuskan sujud dengan tujuh anggota badan
2.        Dengan dahi yang terbuka
3.      Menyentuhkan kepala
4.      Tidak diperbolehkan condong untuk selain sujud
5.      Tidak diperbolehkan sujud di atas sesuatu yang bergerak sehingga merubah sujud
6.      Diharuskan mengangkat segala sesuatu yang bawahnya terhadap yang atas dirinya
7.      Tuma’ninah (tertib, khusyu’) dalam sujud
Tujuh anggota sujud, yaitu :
1.        Dahi yang terbuka atau dahi atas
2.      Dua telapak tangan (dalam)
3.      Dua lutut (dalam)
4.      Jari-jari dua kaki
Disamping sujud dilaksanakan dalam shalat, ada pula yang dilaksanakan di luar shalat seperti sujud Tilawah, sujud Sahwi, sujud Syukur, dll.
Sujud kepada Allah swt. adalah bentuk kepasrahan dan penghambaan seseorang kepada Tuhannya sekaligus sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah hidup yang telah diberikan-Nya, dan sebagai rasa sadar yang mendalam bahwa manusia asalnya tidak ada dan akan kembali menjadi tidak ada, yaitu kembali kepada Allah swt. sebagai penciptanya.
Dengan diwajibkannya sujud menggunakan tujuh anggota badan, mengisyaratkan manusia agar mengetahui dan menyadari bahwa diri manusia telah diciptakan oleh Allah swt. melalui tujuh tahapan yang Maha hebat seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Mu’minun : 12 – 14. Ayat tersebut diakhiri dengan Maha Suci dan pencipta yang paling baik. Artinya, dalam penciptaan manusia Allah swt. tidak membutuhkan siapapun, bahkan dalam segala ciptaan-Nya Dia tidak memerlukan saksi; Apakah itu manusia, jin, Malaikat, atau makhluk yang lainnya.
Pencipta yang paling baik, maksudnya manusia adalah makhluk yang indah dalam bentuk dan rupa serta disempurnakan dengan diberikannya akal pikiran. Sedangkan manusia sebagai makhluk yang diciptakan, wajib bersyukur atas segala nikmat yang diberikan-Nya.
Dalam mendirikan shalat, ruku’ dan sujud  merupakan rukun yang sangat penting walaupun rukun-rukun yang lainnya pun penting, tetapi ruku’ dan sujud merupakan rukun yang sangat diistimewakan karena manusia dapat lebih merasa dekat kepada Allah swt. melaluinya.

 Kesempurnaan Ruku’ dan sujud merupakan kunci khusyu’ dalam shalat.
Rasulullah saw. Bersabda :
اِذَاَحْسَنَ الّرَجُالُ الّصَلَاةَ فَاَءَتَمَّ-رُكُوْعَهَا وَسُجُوْدَهَاقَالَتِ الّصَلاَةِ حَفِضَاكَ اَللهَ  كَمَا حَفِظْتَنِي ,فَتُرْفُعُ وَاِذَاسَاءَ الصَّلاةِ فَلَمْ يُتِمَّ رُكُوُعَهَا وَسُجُوْدَهَا قَا لَتِ الّصَلاَة ِضَيَعَكَ الَلهُ كَمَ ضَيَعْتنَيِ فَتُلَفُ كَمَاَ يُلَّفُ الثَوْبُ الْخَلَقْ فَيُضْرَبُ بِهَا وَجْهَهُ  {رواه الطيا لسي عن عبادة بن الصا مت }
“Apabila seseorang membaikkan shalatnya, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, berkatalah shalat, ‘Allah telah memelihara engkau sebagaimana engkau memelihara aku’, Maka diangkatlah shalat itu kehadirat Allah. Dan apabila seseorang memburukkan shalatnya, tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, berkatalah shalat, ‘Allah telah menyia-nyiakan engkau, sebagaimana engkau menyia-nyiakan aku,’ Maka dibungkuslah shalat itu sebagaimana membungkusnya kain yang buruk, maka dipukulkanlah ke mukanya.” (HR. Thayalis dari ubadah bin shamit)
Banyak sekali keutamaan-keutamaan ruku’ dan sujud dalam shalat seperti yang disabdakan Rasulullah saw. :
اذَا قاَمَاا لْعَبْدِ فِى ّصَلاَ تِهِ ذُ رَ الْبِرُ عَلىَ رَاءْ سِه ِحَتّىَ يَرْ كَعْ فاَ ذَا رَكَعَ عَلَتْه ُ رَحْمَةُ ا َللهِ حَتَى يَسْجُد َوَالّسَاجِدُ يَسْجُدَ عَلىَ قَدَّ مِى ا لَلهِ تَعَا لَى فلَيَسْاءَلْ وَليْرْغَبْ (رواه سعيد بن منصور عن ابى عما ر مر سلا)
 Apabila berdiri hamba dalam shalatnya, bertambahlah kebaikan di atas kepalanya sehingga dia ruku’, maka apabila dia ruku’, naiklah akan dia rahmat Allah sehingga dia bersujud, sujudlah dia atas memperhambakan dirinya kepada Allah, maka bermohonlah dan bersuka citalah.” (HR. Said bin Maushur dari Amas mursalam)
Beruntunglah orang-orang yang mendirikan shalatnya dengan benar karena rahmat dan pahala yang besar akan diberikan kepadanya.

Untuk mencapai kesempurnaan shalat, Rasulullah saw. bersabda :
اِذَا اَقِيْمَتُ الّصَلاَةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اِقْرَا مَا تَيْسَرَ مَعَكَ مِنَ اْلقُرَاَنِ ثُمَّ ارْكَعَ حَتّيَ تَطْمَءِنَّ رَاكِعَا ثُمَّ اْرفَعْ حَتَّى تَعْتَدِ لْ قاَ ءِمَا ثُم ا سْجُدْ حَتّىَ تَطْمَيِنّ سَا جِدًا ثُمَّ ارْفَعَ حَتّىَ تَطْمَيِنَ جَا لِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتّىَ تَطْمَيِنَ سَا جِدًا ثُّم َافْعَلْ ذَلِكَ فِى صَلاَ تِكَ كُلُهَا {روه البخارى ومسلم}
 “Apabila dikerjakan shalat  maka takbirlah, kemudian bacalah apa yang mudah bagi engkau dari pada ayat Al-Qur’an, kemudian ruku’lah hingga tu’maninah ruku’nya, kemudian angkatlah kepalamu hingga I’tidal halnya berdiri lurus, kemudian sujudlah hingga tu’maninah sujudnya, kemudian angkatlah kepala hingga tu’maninah duduknya, kemudian sujudlah hingga tu’maninah sujudnya, kemudian perbuatlah akan demikian pada shalat engkau kesemuanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam mendirikan shalat, janganlah dikira-kira karena ada aturan yang sudah ditetapkan oleh Allah swt. dan Rasulnya.                                                                              Selain manusia, Malaikat, dan jin, ada pula yang bersujud pagi dan petang,  yaitu bayang-bayang, dia tunduk dan taat kepada Allah swt..
Firman Allah swt. :

“Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya di waktu pagi dan petang hari.” (QS. Ar-Ra’d : 15)
Segenap makhluk mengagungkan Allah swt. dan meMaha sucikan-Nya.
Firman Allah swt. : 
“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak diantara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj : 18 )                                                                                                       Sembilan kelompok  makhluk yang disebut dalam ayat di atas adalah ciptaan Allah yang selalu bersujud kepada-Nya. Tetapi kita tidak tahu bagaimana caranya mereka bersujud diantaranya yaitu :
1.    Makhluk-makhluk  yang berada di langit, jumlahnya tidak diterangkan ada berapa, jenisnya ada berapa, dari bangsa apa, apakah menyerupai manusia atau tidak, yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan hadist hanyalah penjaga langit (Khajin) dari bangsa Malaikat yang selalu taat dan bertasbih kepada Allah swt. Semua itu adalah rahasia-Nya yang menjadi Hak Allah sendiri sebagai penguasa dan Pencipta.
2.    Makhluk-makhluk yang ada di bumi yang bersujud kepada Allah, meliputi yang ada di darat dan di laut diantaranya, manusia, jin, burung-burung, gunung, pepohonan, binatang darat,  binatang laut.
               Walaupun sama-sama sebagai penghuni planet  ini tujuh kelompok mahluk ini tidak saling mengetahui berapa jumlah masing-masing, hanya Allah swt. yang tahu berapa jumlah semuanya karena Dia penciptanya.

Firman Allah swt. :
   “Diantara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya” (QS. As-syuraa : 29).
3.    Matahari pun bersujud kepada Allah, Dia yang Maha tahu cara matahari bersujud, sedangkan yang kita tahu matahari sangat taat dalam menjalankan tugasnya, setiap pagi dia terbit kemudian setelah senja dia terbenam dalam waktu yang tepat. Tetapi banyak manusia  yang  bersujud kepada matahari, padahal dia hanya makhluk ciptaan Allah swt.. Dari dahulu banyak manusia yang menjadikan matahari sebagai Tuhan, diantaranya penduduk Negeri saba yang diperintah seorang permpuan (ratu balqis) yang kemudian ditaklukan  Nabi Sulaeman as. dan masuk Islam.
4.    Bulan dan bintang  adalah makhluk Allah yang selalu taat dan bersujud kepadaNya menurut perintah dan ketentuan-Nya. Dua makhluk ini sering dijadikan sumpah oleh Allah swt. untuk menyatakan kekuasaannya agar manusia tahu bahwa  Dialah Tuhan yang sangat perkasa dan wajib disembah, sebaliknya bukanlah bulan dan bintang yang disembah seperti pada zaman orang-orang yang dahulu, keindahan bulan dan bitang adalah tanda-tanda kekuasaan Allah swt..
5.    Ditundukan pula gunung dan pepohonan sehingga mereka bersujud kepada Allah swt. kemudian manusia ada yang hidup dan tinggal di gunung atau di kaki gunung, tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa yang mereka tapaki dan yang mereka jadikan tempat tinggal (kampung) adalah makhluk Allah yang taat bersujud. Kemudian pepohonan yang mereka tebang dan dijadikan bahan untuk membangun rumah-rumah atau kayu bakar adalah makhluk Allah yang taat bersujud kepada-Nya. Oleh karena itu bersahabatlah dengan mereka, jagalah kelestariannya, jangan menebang pepohonan dengan sembarangan, biarkanlah gunung bersahabat (rimbun) dengan pohannya dan biarkanlah mereka bersujud kepada Allah swt..

  1. 6.    Binatang melatapun tak kalah taat bersujud kepada Allah swt. padahal mereka tidak berakal serta terbatas dalam fisik, dengan segala keterbatasan dan kelemahannya mereka tetap mengabdi dan bersujud kepada Tuhannya (Allah swt.). Mereka pun telah menerima takdirnya yaitu  dihalalkan sebagai bahan konsumsi untuk manusia, disembelih, dimasak, dan dan dimakan (kecuali yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya). Dan Allah swt. telah melarang binatang dijadikan bahan adu-aduan (adu domba, dsb.) karena mereka makhluk yang taat bersujud kepada-Nya, Allah melindungi setiap makhluk yang taat bersujud kepada-Nya dan mereka yang zalim akan diazab-Nya.
Banyak makhluk ciptaan Allah swt. yang tidak berakal tetapi mereka bersujud. Tetapi banyak manusia yang dianugerahi akal tetapi tidak mau bersujud (beribadah) kepada Allah swt. bahkan mereka mengingkari Allah sebagai penciptanya, maka Neraka jahanamlah yang akan mereka dapati di akhirat nanti. Mereka jadi mahluk yang hina lebih hina dari binatang melata.Tetapi bagi mereka yang bersujud (beribadah), maka mereka mendapat kemulyaan dan surgalah yang akan mereka raih.
7 RAHASIA KUN  - BAB 1 KUN  (Bagian 7)

7 RAHASIA KUN - BAB 1 KUN (Bagian 7)



S               Selasa,6 Agustus  2019



Kalimat kun fayakun adalah milik Allah swt., tidak ada seorang pun yang bisa membuktikan kun fayakun  kecuali Dia                                                                                               .
Kun fayakun merupakan bahasa yang bukan bahasa, bukan huruf dan bukan suara. Kfayakun artinya ‘jadi, maka jadilah ia.                      
 Ketika Allah swt. menciptakan sesuatu cukup dengan mengatakan jadi maka jadilah ia, kecepatan menjadikan sesuatu itu, yaitu antara kaf ( ك ) dan nun ( ن ).
Dalam keMaha kuasaan-Nya ini, berapakah hitungan (waktu) ketika bersatunya antara kaf  ( ك )dan nun ( ( ن sehingga menjadi ‘kun’  كن ) ) ? Hanya Allah sendiri yang Maha tahu atas segala sesuatu. Manusia, jin, dan malaikat tidak ada yang bisa untuk menirunya, bahkan untuk menjadi saksi pun tidak akan mampu karena Maha luar biasanya jika Allah berkehendak.
Ketika berpindahnya singgasana ratu Balqis dan disandingkan dengan singgasana nabi Sulaeman as. saja masih ada hitungan waktunya, yaitu sepersekian detik. Kisahnya saat itu berawal dari mukjizat yang diberikan oleh Allah swt. kepada nabi Sulaeman as., yaitu bisa berbicara dengan binatang.
Dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ketika itu burung-burung dikumpulkan, setelah diperiksa ternyata ada seekor burung yang tidak hadir, yaitu burung hud-hud. Nabi Sulaeman mengancam akan menyembelihnya kecuali ada alasan yang jelas dan bisa diterima. Kemudian burung hud-hud itu datang dan berkata bahwa dia telah melihat (menemukan) sebuah negara yang sangat besar dan maju, singgasananya pun sangat mewah dan negara itu dipimpin oleh seorang ratu. Di sana mereka menyembah matahari, karena oleh syetan telah dihalang-halangi dari jalan Allah swt., bahkan mereka mengira perbuatan seperti itu adalah indah sehingga mereka tidak mendapat petunjuk Allah swt..
Setelah mendengarkan penjelasan burung tersebut, nabi Sulaeman as. berkata, “Akan kami lihat, apakah kamu benar ataukah berdusta”. Kemudian nabi Sulaeman memerintah burung itu untuk membawa surat yang harus dijatuhkan di depan ratu Balqis agar dia bisa membacanya. Setelah perintah tersebut dijalankan, ratu Balqis berkata, “Wahai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan sebuah surat yang mulia. Surat itu berasal dari Sulaeman yang isinya diawali kata-kata‘Dengan menyebut nama Allah yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Janganlah berlaku sombong kepadaku, datanglah padaku sebagai orang yang berserah diri.’ Wahai para pembesar, berilah pertimbangan dalam hal ini, aku tidak pernah memutuskan suatu persoalan tanpa keputusan majelis.”
Para pembesar menjawab, “Kita mempunyai segalanya, mulai dari kekuatan sampai keberanian dalam peperangan. Sekarang keputusan ada di tanganmu. Oleh karena itu, pertimbangkanlah apa yang akan diperintahkan”. Ratu Balqis berkata, “Sesungguhnya bila raja-raja ingin memasuki suatu negeri, mereka membinasakan dan menjadikan penduduknya yang mulia menjadi hina dan demikianlah yang mereka perbuat. Aku akan mengirimkan utusan kepada mereka untuk memberi hadiah emas berlian yang banyak dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan itu.”

Setelah utusan itu sampai kepada nabi Sulaeman as., beliau berkata, “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta ? Apa yang diberikan Allah itu lebih baik daripada pemberianmu. Jika kamu merasa bangga dengan hadiah itu, kembalilah kepada ratumu. Aku
7 RAHASIA KUN  - BAB 1 KUN  (Bagian 6)

7 RAHASIA KUN - BAB 1 KUN (Bagian 6)

5. Tujuh lautan ilmu

Untuk menerangkan keluasan ilmu-Nya, Allah swt. mengambil perumpamaan dengan lautan.
Kita tahu bahwa lautan lebih luas dibandingkan dengan daratan. Para ahli  berpendapat bahwa perbandingan antara luas daratan dengan lautan adalah 1 : 3. Kemudian tingkat kepadatan air laut dengan air tawar lebih tinggi karena kandungan kadar garam yang tinggi meningkatkan kepadatan air itu sendiri.
Disamping laut sebagai gudang rezeki (tempat ikan), laut juga memiliki aneka rasa seperti yang dijelaskan dalam QS. Fatir : 12; Ada yang tawar, segar, asin, dan pahit. Kita mengenal bahwa tinta alat tulis beraneka warna, begitu pula dengan air laut. Ada yang berwarna hitam yang berada diantara Saudi Arabia dan Mesir, laut merah yang terletak di sebelah barat Saudi Arabia, Laut yang berwarna ungu di Ambon, bahkan ada laut yang putih yang berada di kutub selatan dan kutub utara.

Firman Allah swt. : 
“Katakanlah, ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’ (QS. Al-Kahfi : 109)  
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman : 27)
Yang dimaksud tujuh lautan pada ayat di atas bukanlah laut ini dan itu, tetapi seluruh lautan yang ada di alam semesta ini, sebanyak tujuh kali lipat,  Dan walaupun di tulis lebih dari tujuh kali lipat, ilmu Allah tetap tidak akan pernah habis. Bahkan pepohonan yang ada di alam semesta ini semua tidak akan cukup untuk menjadi penanya. Sungguh Allah swt Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Firman Allah swt. :

Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 255)
Pada hakikatnya manusia tidak tahu apa-apa tentang ilmu. Karena pemilik ilmu adalah Allah swt.. Dan sesungguhnya ilmu adalah salah satu sifat dari sifat Allah swt..

Ilmu terbagi menjadi dua, yaitu Ilmu Wahyu dan Ilmu non wahyu.
Adapun Ilmu wahyu yaitu yang diturunkan oleh Allah swt. dengan mengutus Malaikat Jibril dan disampaikan kepada para Nabi-Nya.
                           Firman Allah swt. :
  
“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-‘Imran : 7)

Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat terang dan tegas. Maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian yang sulit dipahami, atau hanya Allah yang mengetahui.
Firman Allah swt. :
  
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisa : 162)

Orang-orang yang tidak beriman adalah yang mendustakan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Pada dasarnya mereka tahu bahwa yang di sampaikan itu benar-benar (hak) dan datang dari Allah swt.. Mereka juga tahu bahwa Rasulullah saw. adalah utusan-Nya. Tetapi sifat kesombongan telah menguasai diri mereka sehingga mereka dijauhkan dari petunjuk kebenaran, seperti halnya Iblis dia tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib di sembah, Nabi Adam as. Adalah seorang Rasul tetapi dia tetap tidak mau bersujud karena kesombongan sudah jadi sifat dirinya.
Sedangkan Ilmu non wahyu, (Ilmu yang tidak diwahyukan) meliputi pertukangan, pertanian,riset, teknologi  dll.
 
Ilmu adalah salah satu sifat Allah swt. yang diturunkan atau yang diberikan kepada segenap makhluk ciptaan-Nya meliputi manusia, jin, Malaikat, binatang dan sebagainya. Sifat Allah swt. meliputi alam semesta raya ini dengan ilmu-Nya. Ilmu Allah swt. meliputi segenap alam dan segenap makhluknya yang ada. Semua makhluk mempunyai ilmu menurut tingkatan masing-masing. Maka dengan ilmu yang Allah berikan, mereka bisa memelihara diri masing-masing. Salah satu contohnya yang terjadi pada ayam dan bebek; Walaupun dalam satu sarang dan dikerami seekor ayam, setelah menetas, bebek tahu dengan ilmunya sendiri bahwa mereka berbeda jenis dan akhirnya memisahkan diri. Cara mencari makannya pun berbeda menurut ilmunya masing-masing.  Allah swt. telah mengajarkan ilmu kepada burung, bagaimana caranya shalat dan membaca tasbih.
Firman Allah swt. :
  
“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah; Kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur 41)
Burung-burung telah diberi ilham oleh Allah swt. bagaimana cara mereka melakukan ibadah kepada-Nya, mereka telah di beri naluri untuk mencari kesempurnaan hidup, seolah-olah mereka telah menyadari. Mereka hidup ada yang menciptakan dan harus menghambakan diri kepada Sang pencipta.
Kesempurnaan hidup adalah ketika seseorang mengerti, bahwa Allah SWT. adalah Tuhan yang wajib di sembah dengan penuh ketaatan serta tidak menduakanNya. Kemudian dia memahami bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah utusan Allah yang wajib di contoh dalam segala prilaku kehidupan.
Kemudian burung-burung beribadah bersama Nabi Daud as. dan mereka adalah termasuk umat yang taat. Firman Allah swt. :
  
“Dan (kami tundukkan pula) burung-burung dalam Keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah.” (QS. Saad : 19
   “Dan Sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud’, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,” (QS. Saba : 10)
Selain itu, Allah swt. juga telah mengajarkan ilmu kepada lebah.
Firman Allah swt. :
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia’. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl : 68-69)
Dengan ilmu yang telah diwahyukan dari Allah, lebah sangat pandai dan apik dalam membuat sarangnya sehingga para ilmuan sangat kagum pada cara lebah saat membangun sel-sel tempat penyimpanan madu, mulai dari sudut-sudut yang berbeda dan bertemu ditengah sampai selesai pembuatan sarangnya yang berbentuk  sangat sempurna. Sarang yang di bangun oleh lebah semata-mata ilmu dari Allah swt. Yang telah di wahyukan kepada mereka. Manusia manakah yang bisa merancang sesempurna itu, kalau tanpa perhitungan yang sangat detil. Semua makhluk yang hidup ada di Alam ilmu, dan ilmu merupakan suatu alat untuk bisa berkarya. Tanpa ilmu manusia tidak bisa apa-apa.
Rasulullah saw.  bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka carilah ilmunya, barangsiapa yang menginginkan akhirat carilah ilmunya, barangsiapa yang menginginkan keduanya maka carilah kedua ilmunya”  (Hadist)
Yang menentukan tinggi dan rendahnya derajat diri seseorang adalah ilmunya, oleh karena itu janganlah seperti orang yang kehausan di tengah telaga atau kering di tengah lautan. Sejak penciptaan manusia yang pertama,  Allah swt. telah membekalinya dengan ilmu dan ini diperlihatkan kepada para Malaikat sebagai jawaban atas keraguan mereka.
Firman Allah swt. : 
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah : 31)
Apapun itu bendanya, Nabi Adam as. telah mengetahui nama-namanya. Baik yang sudah ada ataupun yang akan datang di masa depan. Itulah jati diri manusia yang telah dilebihkan oleh penciptanya. Mereka pintar karena di beri tahu, mereka pandai karena di ajari, mereka mulia karena di lebihkan dari mahluk yang lain.
Firman Allah swt. :  
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra : 70)
Ilmu-ilmu yang diturunkan Allah swt. kepada Nabi-Nabi as. sesuai dengan keperluan pada zamanya dan Allah yang memilih siapa yang pantas dan layak untuk menjalankannya.
                              Firman Allah swt. :
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah - 247)
Kepada Nabi Sulaeman as. sebelum dijadikan seorang raja yang besar Allah swt. menawarkan tiga perkara, diantaranya harta, tahta, dan ilmu. Dan Nabi Sulaeman as. memilih ilmu.

Firman Allah swt.:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya : 79)
Dengan ilmu yang diberikan Allah swt., Nabi Sulaeman as. dapat memimpin kerajaan yang sangat besar hingga dapat menaklukan bangsa jin, manusia dan burung   yang dijadikan pekerja- pekerja untuk membantu kerajaannya.

Firman Allah swt. :
“Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,” (QS. Al-Anbiya : 82)
“Dan (kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, Dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (QS. Shaad : 37-38)
“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba : 13)
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang diantara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba : 12)
  “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendaki-Nya,” (QS. Shaad : 36)
Itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan yang mengutamakan Ilmu.