15 August 2019

TUJUH LAUTAN ILMU

TUJUH LAUTAN ILMU


BAB 4

TUJUH LAUTAN ILMU


Untuk menerangkan keluasan ilmu-Nya, Allah swt. mengambil perumpamaan dengan lautan.
Kita tahu bahwa lautan lebih luas dibandingkan dengan daratan. Para ahli  berpendapat bahwa perbandingan antara luas daratan dengan lautan adalah 1 : 3. Kemudian tingkat kepadatan air laut dengan air tawar lebih tinggi karena kandungan kadar garam yang tinggi meningkatkan kepadatan air itu sendiri.
Di samping laut sebagai gudang rezeki (tempat ikan), laut juga memiliki aneka rasa seperti yang dijelaskan dalam QS. Fatir : 12; Ada yang tawar, segar, asin, dan pahit. Kita mengenal bahwa tinta alat tulis beraneka warna, begitu pula dengan air laut. Ada yang berwarna hitam yang berada diantara Saudi Arabia dan Mesir, laut merah yang terletak di sebelah barat Saudi Arabia, laut yang berwarna ungu di Ambon, bahkan ada laut yang putih yang berada di kutub selatan dan kutub utara.
Firman Allah swt. : 
“Katakanlah, ‘Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’ (QS. Al-Kahfi : 109) 
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman : 27)
Yang dimaksud tujuh lautan pada ayat di atas bukanlah laut ini dan itu, tetapi seluruh lautan yang ada di alam semesta ini, sebanyak tujuh kali lipat, dan walaupun ditulis lebih dari tujuh kali lipat, ilmu Allah tetap tidak akan pernah habis. Bahkan pepohonan yang ada di alam semesta ini semua tidak akan cukup untuk menjadi penanya. Sungguh Allah swt Maha perkasa, Maha bijaksana.

Allah swt. berfirman :
Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 255)
Pada hakikatnya manusia tidak tahu apa-apa tentang ilmu. Karena pemilik ilmu adalah Allah swt.. Dan sesungguhnya ilmu adalah salah satu sifat dari sifat Allah swt..
Ilmu terbagi menjadi dua, yaitu ilmu wahyu dan ilmu non wahyu. Ilmu wahyu yaitu yang diturunkan oleh Allah swt. dengan mengutus malaikat Jibril dan disampaikan kepada para nabi-Nya.
Firman Allah swt. :
“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS. Ali-‘Imran : 7)
Ayat-ayat muhkamaat adalah ayat-ayat terang dan tegas, maksudnya dapat dipahami dengan mudah. Sedangkan ayat-ayat mutasyabihaat adalah ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian yang sulit dipahami, atau hanya Allah yang mengetahui.
Firman Allah swt. :
“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisa : 162)
Orang-orang yang tidak beriman adalah yang mendustakan apa yang diturunkan kepada nabi Muhammad saw. Pada dasarnya mereka tahu bahwa yang disampaikan itu benar-benar (hak) dan datang dari Allah swt.. Mereka juga tahu bahwa Rasulullah saw. adalah utusan-Nya, tetapi sifat kesombongan telah menguasai diri mereka sehingga mereka dijauhkan dari petunjuk kebenaran, seperti halnya iblis yang tahu bahwa Allah adalah Tuhan yang wajib disembah dan nabi Adam as. adalah seorang Rasul tetapi dia tetap tidak mau bersujud karena kesombongan sudah jadi sifat dirinya.
Sedangkan ilmu non wahyu, (ilmu yang tidak diwahyukan) meliputi pertukangan, pertanian, riset, teknologi,  dll.
  Ilmu adalah salah satu sifat Allah swt. yang diturunkan (diberikan) kepada segenap makhluk ciptaan-Nya meliputi manusia, jin, malaikat, binatang, dan sebagainya. Sifat Allah swt. meliputi alam semesta raya ini dan segenap makhluk yang ada dengan ilmu-Nya. Semua makhluk mempunyai ilmu menurut tingkatan masing-masing. Maka dengan ilmu yang Allah berikan, mereka bisa memelihara diri masing-masing. Salah satu contohnya yang terjadi pada ayam dan bebek; walaupun dalam satu sarang dan dikerami seekor ayam, setelah menetas, bebek tahu dengan ilmunya sendiri bahwa mereka berbeda jenis dan akhirnya memisahkan diri. Cara mencari makannya pun berbeda menurut ilmunya masing-masing. Allah swt. pun telah mengajarkan ilmu kepada burung, bagaimana caranya shalat dan membaca tasbih.
Firman Allah swt. :
“Tidaklah kamu tahu bahwasanya Allah; Kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) sembahyang dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nur  : 41)
Burung-burung telah diberi ilham oleh Allah swt. bagaimana cara mereka melakukan ibadah kepada-Nya, mereka telah diberi naluri untuk mencari kesempurnaan hidup, seolah-olah mereka telah menyadari bahwa hidup ada yang menciptakan dan harus menghambakan diri kepada sang pencipta.
Kesempurnaan hidup adalah ketika seseorang mengerti bahwa Allah swt. adalah Tuhan yang wajib disembah dengan penuh ketaatan serta tidak menduakan-Nya dan dia memahami bahwa nabi Muhammad saw. adalah utusan Allah yang wajib dicontoh dalam segala perilaku kehidupan.
Kemudian burung-burung beribadah bersama nabi Daud as. dan mereka termasuk umat yang taat. Firman Allah swt. :
“Dan (kami tundukkan pula) burung-burung dalam keadaan terkumpul. Masing-masingnya amat taat kepada Allah.” (QS. Saad : 19)
 “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman), ‘Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud’, dan Kami telah melunakkan besi untuknya,” (QS. Saba : 10)
Selain itu, Allah swt. juga telah mengajarkan ilmu kepada lebah.
Firman Allah swt. :
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah, ‘Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia’. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.” (QS. An-Nahl : 68-69)
Dengan ilmu yang telah diwahyukan dari Allah, lebah sangat pandai dan apik dalam membuat sarangnya sehingga para ilmuan sangat kagum pada cara lebah saat membangun sel-sel tempat penyimpanan madu, mulai dari sudut-sudut yang berbeda dan bertemu di tengah sampai selesai pembuatan sarangnya yang berbentuk sangat sempurna. Sarang yang dibangun oleh lebah semata-mata ilmu dari Allah swt. yang telah diwahyukan kepada mereka. Manusia manakah yang bisa merancang sesempurna itu jika tanpa perhitungan yang sangat detil. Semua makhluk yang hidup ada di alam ilmu dan ilmu merupakan suatu alat untuk bisa berkarya. Tanpa ilmu manusia tidak bisa apa-apa.
Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menginginkan dunia maka carilah ilmunya, barangsiapa yang menginginkan akhirat carilah ilmunya, barangsiapa yang menginginkan keduanya maka carilah kedua ilmunya”  (Hadist)
Yang menentukan tinggi dan rendahnya derajat diri seseorang adalah ilmunya, oleh karena itu janganlah seperti orang yang kehausan di tengah telaga atau kering di tengah lautan. Sejak penciptaan manusia yang pertama, Allah swt. telah membekalinya dengan ilmu dan ini diperlihatkan kepada para malaikat sebagai jawaban atas keraguan mereka.
Firman Allah swt. :  
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman, ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!" (QS. Al-Baqarah : 31)
Apapun itu bendanya, nabi Adam as. telah mengetahui nama-namanya, baik yang sudah ada ataupun yang akan datang di masa depan. Itulah jati diri manusia yang telah dilebihkan oleh penciptanya. Mereka pintar karena diberi tahu, mereka pandai karena diajari, mereka mulia karena dilebihkan dari mahluk yang lain.
Firman Allah swt. :“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra : 70)
Ilmu-ilmu yang diturunkan Allah swt. kepada para nabi as. sesuai dengan keperluan pada zamanya dan Allah yang memilih siapa yang pantas dan layak untuk menjalankannya.
Firman Allah swt. :
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka, ‘Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.’ Mereka menjawab, ‘Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?’ Nabi (mereka) berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.’ Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 247)

Kepada nabi Sulaeman as. sebelum dijadikan seorang raja yang besar Allah swt. menawarkan tiga perkara, di antaranya harta, tahta, dan ilmu. Dan nabi Sulaeman as. memilih ilmu.

Firman Allah swt.:

“Maka Kami telah memberikan pengertian kepada Sulaeman tentang hukum (yang lebih tepat); dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya : 79)
Dengan ilmu yang diberikan Allah swt., nabi Sulaeman as. dapat memimpin kerajaan yang sangat besar hingga dapat menaklukan bangsa jin, manusia, dan burung yang dijadikan pekerja- pekerja untuk membantu kerajaannya.
Firman Allah swt. :

“Dan Kami telah tundukkan (pula kepada Sulaiman) segolongan syaitan-syaitan yang menyelam (ke dalam laut) untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain daripada itu, dan adalah Kami memelihara mereka itu,” (QS. Al-Anbiya : 82)
“Dan (kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (QS. Shaad : 37-38)
“Para jin itu membuat untuk Sulaeman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (QS. Saba : 13)
“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaeman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula) dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang diantara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.” (QS. Saba : 12)
  “Kemudian Kami tundukkan kepadanya angin yang berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendaki-Nya,” (QS. Shaad : 36)
Itulah kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman dan yang mengutamakan Ilmu.





12 August 2019

TUJUH TAHAP  PENCIPTAAN MANUSIA

TUJUH TAHAP PENCIPTAAN MANUSIA


TUJUH TAHAP  PENCIPTAAN MANUSIA

                                          
Allah swt. berfirman :
 “Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Al-Mu’min : 57)
“Apakah penciptaan kamu  yang lebih hebat ataukah langit yang telah dibangun-Nya ?” (QS. An-Nazi’at : 27)
Allah swt. memerintahkan manusia untuk introspeksi tentang bagaimana asal kejadiannya, besar manakah antara penciptaan manusia dengan tujuh langit dan bumi walaupun pada hakikatnya penciptaan langit yang tujuh dan bumi, lebih besar dari penciptaan manusia, tetapi untuk kedua-duanya tidak ada yang sulit bagi Allah swt., tetapi agar manusia lebih mengenal kebesaran-Nya sehingga timbul rasa syukur bagi diri mereka.
Firman Allah swt. :
“Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan, ‘Jadilah, lalu terjadilah’,….” (QS. Al-An’am : 73)
Pembaca, mari kita mengenal lebih jauh proses penciptaan manusia.
Firman Allah swt. :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, pencipta yang paling baik.” (QS. Al-Mu’minun : 12-14)
Dalam penciptaan manusia, Allah swt. tidak memerlukan saksi atau bantuan siapapun, demikian pula dengan penciptaan makhluk yang lainnya. Dia cukup dengan berkatakun fayakun” (jadi, maka jadilah ia). Jika kita hitung, menurut ayat di atas ada 7 tahapan proses penciptaan manusia mulai dari :
1)        Sulalati min thin          =   sari pati tanah
2)        Nutfah                          =   air mani
3)        Alakhah                       =   yang melekat
4)        Muzghah                      =   segumpal daging
5)        Idhaman                      =   tulang belulang
6)        Lahman                       =   daging
7)        khal khan akhara         =   bentuk yang lain

Penjelasannya sebagai berikut :
1)        Sulalati min thin (saripati tanah)
Allah swt. berfirman :
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minun : 12)
Sangat luar biasa kuasa Allah swt., Dia menciptakan makhluk yang sempurna  (manusia) hanya dengan menggunakan bahan yang sangat sederhana yaitu dari saripati tanah.
Pada hakikatnya segala yang tumbuh di tanah berasal dari tanah. Dan Allah telah menjadikan sebagian tumbuhan dan hewan sebagai sumber makanan. Setelah dikonsumsi kemudian dengan kehendak-Nya, Allah swt. menjadikannya nutfah.

2)        Nutfah (Air mani)
Menurut para ahli, dalam kandungan nutfah (air mani) ada seratus juta sel yang dihasilkan oleh pria dewasa dalam setiap harinya. Sel-sel kelamin yang dibentuk oleh seorang pria disebut sel mani (spermatozoa). Sedangkan sel-sel yang dibentuk  oleh seorang wanita disebut sel telur (ovum). Proses pembentukan spermatozoa disebut Spermatogenesis. Sedangkan proses pembentukan ovum disebut oogenesis. Kedua proses mengawali terjadinya perkembangbiakan pada manusia.
Seorang  wanita mampu memproduksi sel telur (ovum) setelah masa puber (remaja awal) sampai dewasa sekitar usia 12 sampai 50 tahun.

3)        Alakhah (yang melekat)
 Jika sperma bertemu dengan ovum maka akan terjadi pembuahan. Pembuahan  terjadi di oviduk. Sel telur yang telah dibuahi akan membentuk zigot. Zigot yang terbentuk segera diselubungi oleh selaput, kemudian menuju ke rahim. Di dalam rahim zigot menanamkan diri pada dinding rahim yang telah menebal. Zigot yang telah berada dalam rahim akan terus tumbuh dan berkembang menjadi embrio sampai dilahirkan.
Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an “Alakhah” (yang melekat).
4)        Muzghah (segumpal daging)
Setelah pembuahan berusia satu bulan (4 minggu) maka akan terbentuk bagian kepala, jantung, dan hati, serta sistem pencernaan sebagai saluran sederhana; ada sebuah ekor yang khas; jaringan-jaringan eksra embrionik mulai muncul.
5)        Idhaman (tulang belulang)
Proses terbentuknya tulang belulang terjadi dalam usia 2 bulan (8 minggu) mulai dari telinga, mata, jari-jari, mulut, hidung, dan tumit yang merupakan bentuk-bentuk tersendiri; tulang mulai dibentuk, sistem pencernaan terbentuk; sistem saraf dan sistem sirkuler mulai berfungsi; adanya alat kelamin luar, tetapi belum dapat dibedakan jenis kelaminnya.
6)        Lahman (daging)
Pada usia 3 bulan (12 minggu) terbentuk ginjal, hati, tangan, lengan, tungkai, kaki, dan sistem pencernaan telah berkembang baik; alat kelamin luar antara pria dan wanita mulai dapat dibedakan;  paru-paru mulai jelas; adanya gerakan-gerakan kecil dari janin.
7)        Khal khan Akhara (bentuk yang lain)
Pada usia 4 bulan (16 minggu) detak jantung sudah bisa dirasakan, terbentuknya tulang-tulang di seluruh tubuh; kulit berkembang sepenuhnya; sudah dapat ditentukan jenis kelaminnya; munculnya alis, bulu mata, dan rambut kepala; gerakan janin meningkat. Sejak minggu ke 16 sampai saat kelahiran usia 9,5 bulan (38 minggu) terjadi akumulasi lemak di bawah kulit; menjelang minggu ke 22 janin mulai membuka matanya, gerakan-gerakan janin dirasakan oleh ibunya, terjadi kenaikan gerak badan yang sangat cepat; pada bulan ke-7 posisi kepala ke bawah sebagai persiapan untuk kelahiran.
Kemudian Allah berkehendak mengeluarkannya dari kandungan ibunya.
Firman Allah swt. :
Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS.Al-Araf: 10)
                   Khal khan akhara artinya, Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain (berbeda). Ketika ia lahir dari rahim ibunya, paras atau rupanya tidak ada yang sama dengan manusia yang sudah ada. Oleh karena itu pada hakikatnya manusia itu satu. Coba kita lihat pada kerumunan manusia, adakah yang sama dengan kita ?  Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik.
Firman Allah swt. :
“Dan apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!” (QS. Yaasin : 77)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al-Mu’minun : 115)
Itulah tujuh tahap rahasia penciptaan manusia yang Maha hebat (Af-Alullah)
Banyak yang mengingkari nikmat besar ini dengan tidak mau bersyukur atas anugerah penciptaan-Nya. Padahal mereka hidup atas karunia-Nya, mereka panjang umur atas nikmat-Nya, mereka mempunyai rezeki atas pemberian-Nya, semua yang diberikan akan ditanya (dihisab) apakah yang diberikan-Nya itu sesuai dengan keinginan yang memberi-Nya atau tidak.
Firman Allah swt. :
 “Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah : 56)
Di samping manusia harus bersyukur, dia juga harus mempertahankankan kualitas sebagai makhluk yang paling baik, jangan sampai jatuh pada derajat yang paling bawah dan hina, kemuliaan yang telah diberikan oleh Allah swt. hendaknya dipelihara dan dijaga dengan sebaik-baiknya.
Seorang manusia baru bisa dikatakan menjaga kemuliaan bila dia menjadi seorang yang bertakwa, dan sebaliknya bila dia tidak bisa menjaga ketakwaan maka dia akan jatuh ke derajat yang hina.
Firman Allah swt. :
 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan maka mereka akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tin : 4-8)                                                                                                                          
Ada tiga hal yang sangat penting dalam diri manusia yang harus diperhatikan dan ditafakuri sekaligus disyukuri, dan ketiga perkara ini banyak diingatkan oleh pencipta-Nya (Allah swt.)  karena menyangkut derajat serta kemuliaan manusia.
Firman Allah swt. :
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An-Nahl : 78)
Pendengaran, penglihatan, dan hati merupakan nikmat yang tiada bandingannya. Melalui pendengaran, kita bisa berkomunikasi dengan alam semesta yang memiliki aneka ragam suara dan lantunan alam. Pendengaran seperti sebuah chip yang mampu membedakan suara yang bersifat besar dan kecil, keras dan pelan, menggelegar dan mendayu, tegas atau berbisik. Keunikan pendengaran juga bisa membedakan jenis suara yang ada di alam semesta raya ini mulai dari suara manusia, hewan-hewan dari berbagai jenis, ataupun suara gerakan alam yang lainnya di antaranya, gemuruh angin, deburan air, atau suara halilintar sekalipun, dan semua itu tidak tertukar antara satu dengan yang lainnya. Subhanallah.
Kemudian Allah swt. telah menjadikan penglihatan yang disimpan dalam mata. Penglihatan pun seperti sebuah chip yang luar biasa aneh dan menakjubkan. Penglihatan bisa mendeteksi semua yang tampak di alam semesta ini dengan membedakan besar-kecil, bentuk-rupa, jenis-warna, kasar-lembut, panjang-pendek.
Sesungguhnya penglihatan itu tidak berbohong, yang membohongi pendengaran dan penglihatan adalah syetan. Pendengaran dan penglihatan merupakan alat perekam yang luar biasa unik, bila kita pernah mendengar suara seseorang maka secara otomatis akan tertinggal (tersimpan) dalam memori. Demikian pula dengan penglihatan, ia akan merekamnya, ketika bertemu dengan seseorang, kita tidak akan asing lagi dengan orang dan pemilik suaranya. Subhanallah.
Kemudian Allah swt. yang menciptakan hati. Hati adalah sesuatu yang sangat dekat dengan Allah swt..
Firman Allah swt. dalam hadist qudsi :
 “Barangsiapa yang mendekati aku sejengkal, aku akan mendekatinya sehasta.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Itulah keistimewaan hati, ia bisa dekat dan bisa jauh kepada Allah. Seorang hamba mendapat petunjuk lewat hati, mendapat taufik dan hidayah melalui hati. Bahkan Al-Qur’an yang agung pun diturunkan ke dalam hati.
Hati merupakan raja dari seluruh anggota badan. Dia yang memerintah dan yang memutuskan segala yang direncanakan. Orang-orang beriman selalu akan mendekatkan hatinya kepada Allah swt. supaya mendapat bimbingan dalam segala tindakan dan keputusan.
Ada dua hati yang mempunyi sifat yang sangat berbeda.
Rasulullah saw. bersabda :
 “Hati orang mukmin itu bersih, di dalamnya ada lampu yang bersinar, dan hati orang kafir itu hitam terbalik.” (HR. Ahmad dan Thabrani).
Orang mukmin yang bersinar hatinya akan mudah menerima hidayah dan taufik,  sedangkan yang hitam akan sebaliknya.
Mereka yang dianugerahi tiga perkara di atas (pendegaran, penglihatan dan hati) wajib bersyukur karena telah  diberi nikmat yang sangat besar. Tetapi bila tidak mensyukurinya, Allah telah mengancamnya.
Firman Allah swt. :
 “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?’ Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga)” (QS. Al-An’am : 46)
Betapa celakanya orang-orang yang mengingkari nikmat ini, mereka tidak memanfaatkan pemberian Allah swt. tetapi malah menjadikannya sebagai alat kedurhakaan.
Dengan demikian tiga nikmat yang besar di atas bisa dijadikan kunci untuk meraih kebahagiaan yang abadi, dan bisa menjadi kerugian yang abadi.
Firman Allah swt. :
 “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf : 179)
Tiga nikmat di atas adalah  tanda-tanda kebesaran  Allah swt. maka seharusnya digunakan untuk mengenal kebesaran Allah pula, karena tidak ada yang maha besar kecuali Allah swt..[*]